Am I Losing My Humanity?

Am I Losing My Humanity?

Di jalanan Jakarta, di atas motor, pikiran saya kerap berkecamuk. Sepertinya ada yang bertengkar di dalam otak saya. Kalau kalian bisa bayangkan yang sebelah kiri The Evil, yang sebelah kanan The Angel. Namun kebanyakan, tidak cuma masalah mana benar mana salah, tapi saya juga mau tidak mau harus berfikir rasional.

Misalnya saja, tadi pagi dalam perjalanan saya menuju kantor. Ada bapak-bapak yang menarik gerobak penuh dengan tumpukan ban motor bekas. Tingginya tumpukan itu saja hampir sekepala saya, sementara gerobak si bapak ini, seharusnya hanya bisa dipenuhi dengan setengah dari tumpukan itu. Sekilas saya melihat, si bapak berusaha sangat keras untuk menarik gerobaknya, dari depan, bukan di dorong dari belakang. Lalu melintas lah si Evil, si Angel plus si Rasional, ini. Kalau ditranskripkan, kira-kira begini pembicaraan mereka:

Angel: “Kasihan bapaknya.. Ayo dibantuin..”

Rasional: “Mau dibantuin gimana? Narik gerobaknya pake motor? Piye carane?”

Evil: “Udah biarin aja lah, emang kerjaannya dia gitu”

Angel: “Tapi kasihan loh, bantuin aja gak papa, kan ntar dapat pahala”

Rasional: “Tapi repot ah, pake baju rapih gini, entar kotor. trus kalo bantuin si bapak, ntar telat nyampe kantor. kan harus absen. ntar kalo absen kurang, di potong gaji pulak..”

Ya kira-kira begitu lah…

Sedihnya kebanyakan yang menang dari pikiran saya ya tentunya si Rasional ini (plus si Evil dong, karena sebenernya sama-sama jahat juga sih.. hehe..).

Kejadian seperti ini tentunya banyak, sangat banyak malahan, bisa ditemukan di jalan-jalan Jakarta. Ibu-ibu yang duduk dipinggir jalan dengan anaknya yang dibaringkan hanya dibungkus kain sarung, menangis-nangis meminta sedekah. Nenek-nenek yang mengemis saat kita sedang asik menyantap makan siang. Dan orangnya, ya itu-itu saja. Tidak berubah. Sepertinya memang cara itu lah yang mereka gunakan sebagai mata pencaharian.

Terus saya tidak bisa apa-apa tuh. Memberi sedekah seperti itu juga jarang. Pikiran saya, “makin diberi, mereka akan semakin sering minta”. Karena gampang toh, sementara saya kerja 8 jam sehari (bisa lebih) dan dapat gaji baru di akhir bulan, dan itu juga sudah dipotong zakat, sudah cukup bukan? Then my angel side said, “tapi mereka tinggal dimana? belum tentu di rumah yang nyaman. mereka tidak punya pendidikan, mereka tidak bisa kerja – tidak punya skill, harusnya saya kasihan sama mereka, karena saya masih bisa tinggal di kamar kos yang sangat enak, bisa sekolah tinggi dan skill saya bisa untuk kerja kantoran, bahkan masih bisa foya2, jalan2 dan lain-lain”. Dan tentu saja bisa di jawab sama si Evil: “tapi mereka bukan tanggung jawab kamu, uangmu, hasil keringatmu, ya untuk dirimu sendiri dong. biar aja mereka di urusin sama pemerintah”

Tapi pemerintahnya mana? 😐

Ah sungguh, untuk masalah ini saya tidak pernah menemukan jalan keluar. Semakin lama saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa saya sangat egois. Karena saya tidak bisa apa-apa, saya tidak peduli, I feel like I’m losing my humanity, here, living in Jakarta.

Advertisements

4 thoughts on “Am I Losing My Humanity?

  1. untuk bapak itu kita hanya bisa berdoa saja untuk kehidupannya yg lebih baik, btw kalo lagi naek motor jangan sambil mikir macem2 yahh. konsen nyetir aja 🙂

  2. ga kok, ga kehilangan rasa kemanusiaan. diriku pernah beberapa kali “terjebak” di situasi serupa. tapi ya, secara sederhana gini aja.. “kalo ada rezeki lebih dan diriku udah cukup, i’ll give/share them. that’s it.”

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s