Biaya Hidup-Kuliah di Swedia

Biaya Hidup-Kuliah di Swedia

Sepertinya postingan seperti ini adalah suatu kewajiban buat yang pernah kuliah di luar negeri ya. Hihi. Sebenernya di jaman google ini informasi apapun gampang sih dicari bagi yang mau berusaha :p Tapi berhubung sudah ada ((( fans ))) di blog ini yang bertanya, dan gue udah punya pengalaman pribadi, dan pas gue lagi baik hati juga, dan yang paling penting: lagi niat nulis, yaudah deh mariii ditulis di mariii.

Postingan ini terlebih diuntukkan buat yang pengen kuliah dengan biaya sendiri, karena gue memang berkuliah di Swedia kemarin dengan biaya sendiri, tanpa beasiswa, blas.

Disclaimer: Ini postingan serius kok, bukan April Mop 😆 Panjang sih iya, karena seperti biasa, harus dong gue kasih tips and trick, dan cerita ala-ala gue. Kalo pengen cepet, sila langsung scroll ke bawah baca bagian Kesimpulan aja. Haha.

Biaya Pendaftaran Sekolah

Normalnya, pendaftaran sekolah di Swedia dilakukan melalui universityadmissions.se. Biaya pendaftaran (application fee) di situs tersebut sebesar 900 Swedish Kronor (SEK) untuk satu semester (6 bulan). Artinya dalam satu semester kamu bisa mendaftar program sebanyak apapun tanpa dikenakan biaya tambahan lagi [1].

Gue sendiri sebenarnya mendaftar kuliah melalui program Erasmus Mundus, sehingga gue membayar application fee menurut aturan dari program Erasmus Mundus gue.

Biaya Sekolah

Penting diketahui bahwa Swedia mengenakan biaya kuliah (tuition fee) untuk para pelajar yang bukan berasal dari negara-negara Uni Eropa. Biaya kuliah bervariasi tergantung dari Universitas yang diinginkan, sekitar 80.000 hingga 140.000 SEK per tahun [2]. Namun biaya bisa lebih banyak untuk program-program khusus, misalnya Kedokteran.

Gue sendiri kuliah di Blekinge Tekniska Högskola (BTH) di Karlskrona, mengambil jurusan Master in Software Engineering. Biaya per tahunnya 100.000 SEK. Jika dirunut lagi biaya tersebut untuk 8 mata kuliah per tahun, yang per mata kuliahnya sebesar 12.500 SEK.

Untuk pembayaran kuliah dilakukan langsung ke universitas yang bersangkutan (kali ada yang pake agen?). Pada kasus gue, gue bayar 50% ketika menerima tawaran sekolahnya, kemudian 50% sisanya gue bayarkan di semester kedua ketika gue udah di Swedia.

Penting diketahui biaya kuliah ini 100% sudah harus ada di rekening tabungan kamu sendiri sebelum mengajukan visa pelajar/residence permit, sebagai salah satu syarat bahwa kamu bisa membiayai kuliah kamu di Swedia. Atau jika kamu sudah membayar biaya kuliah langsung ke Universitas di Swedia, maka Universitas tersebut akan menyampaikan informasinya langsung ke Imigrasi.

Biaya Pengajuan Residence Permit/Visa Pelajar

Untuk belajar di Swedia lebih dari 3 bulan, peminat sekolah harus mendapatkan Residence Permit (Uppehållstillstånd). Biaya pengajuan residence permit sebesar 1000 SEK [3][5]. Pengajuan residence permit dapat dilakukan secara online (kemungkinan lebih cepat selesai) dan bisa juga secara tertulis melalui Kedutaan Swedia di Jakarta.

Persiapan Biaya Hidup untuk Pengajuan Residence Permit

Biaya hidup di Swedia harus disiapkan sebelum kamu mengajukan residence permit. Setelah tanggal 1 Januari 2016, Pemerintah Swedia mengharuskan kamu memiliki setidaknya 8000 SEK per bulan [4]. Pada saat pengajuan residence permit, kamu sudah harus memiliki 10 kali dari biaya tersebut di rekening pribadi kamu (jadi sebesar 80.000 SEK). Biaya tersebut dianggap cukup untuk hidup kamu selama 1 tahun kuliah di Swedia, dimana biasanya para pelajar hanya dikenakan biaya apartemen siswa selama 10 bulan saja untuk 12 bulan sewa. Terlebih lagi, bulan Juli-Agustus adalah libur musim anas, dan siswa-siswa internasional biasanya pulang kampung (atau jalan-jalan keliling Eropa? :p). Nah, jika kamu berharap tetap tinggal di Swedia selama bulan tersebut, maka siapkanlah biaya 8000 SEK dikali 12, ya 🙂 Ntar pan kasian kalo ga makan dua bulan jadinya 😆

Setau gue, meskipun kamu kuliah untuk 2 tahun, ketika pengajuan visa yang pertama kali, kamu bisa saja hanya menunjukkan bukti bahwa kamu ada biaya untuk tahun pertama terlebih dahulu. Karena pengalaman gue dan teman-teman yang lain, meskipun kuliah 2 tahun, tetapi Pemerintah Swedia hanya tetap memberikan residence permit untuk 1 tahun terlebih dahulu.Untuk tahun berikutnya, persyaratan pengajuan perpanjangan visa termasuk transkrip nilai kamu selama tahun pertama dan bukti registrasi ulang untuk tahun kedua kuliah. Untuk pengajuan perpanjangan visa, nanti dikenakan biaya lagi sesuai dengan yang berlaku pada saat itu. Informasinya bisa kamu cek lagi di sini [5].

Biaya Asuransi Kesehatan untuk pengajuan Residence Permit

Asuransi kesehatan termasuk salah satu persyaratan pengajuan visa/residence permit. Untuk mahasiswa dari luar Uni Eropa yang harus membayar tuition fee, biasanya Asuransi Kesehatan disediakan dari Universitas yang menerima kamu. Dalam kasus gue juga seperti ini. Jadi begitu gue dapat informasi bahwa diterima di BTH, gue langsung menanyakan hal ini, dan mereka mengirimkan scan Asuransi Kesehatan yang mereka sediakan.

Jika Universitasnya tidak menyediakan, gue kurang tahu juga sih ini gimana. #Eaaak. Kamu harus cari perusahaan asuransi yang menyediakan paket untuk kuliah di luar negeri. Contohnya ini gue kasih satu, lewat AXA [6].

Asuransi ini terutama diharuskan untuk tahun pertama kuliah atau kuliah yang hanya memerlukan waktu 1 tahun. Jika kamu kuliah 2 tahun, pada tahun kedua kamu bisa mendapatkan Nomor Identitas (personnummer) dari kantor pajak Swedia (Skatteverket), sehingga kamu bisa mendapatkan perawatan kesehatan seharga/seperti Warga Negara Swedia pada umumnya [7].

Untuk biaya perawatan kesehatan sendiri, gue kurang tau. Mohon maaf. Tapi pengalaman gue sendiri, gue pernah periksa karena sakit telinga. Biaya periksa 5 menit aja sekitar 700 SEK. Karena gue ga punya personnummer dan waktu itu residence permit gue habis masa berlaku (jadi ga terdaftar di sistem rumah sakitnya), maka gue harus bayar sendiri. Mungkin bisa minta ganti dari asuransi kampus, tapi karena satu dan lain hal, it just did not work for me.

Asuransi kesehatan ini diharuskan, jadi jangan dianggap remeh. Masih syukur, gue ga kenapa-kenapa selama di Swedia. Ada cerita dari teman yang patah kaki-nya ketika main Ski. Beruntunglah ada asuransi yang nanggung biaya perawatannya.

Biaya Tempat Tinggal/Apartemen

Beda kota beda harga apartemen. Karlskrona termasuk kota kecil di Swedia, dan cuma punya 2 kampus (BTH dan Hyper Island). Harga apartemen siswa biasanya berkisar antara 2000 – 4000 SEK. Perusahaan yang biasa menyediakan apartemen siswa (di Karlskrona) adalah Karlskronahem dan PBA. Ada juga yang mencapai 7000 SEK, misalnya apartemen studio dengan kamar mandi dan dapur sendiri (contoh: dari Krebo). Untuk apartemen siswa, biasanya biaya sudah termasuk listrik, heating (penghangat untuk musim dingin) dan internet.

Kota lain yang lebih besar, Stockholm, Malmö dan Gothenburg, harga sewa apartemen siswa bisa lebih mahal. Jadi dari biaya hidup kamu sebulan yang diwajibkan oleh Imigrasi Swedia itu, setidaknya 40-60% akan kamu habiskan untuk apartemen saja.

Enaknya, seperti yang udah gue bilang juga tadi, apartemen siswa biasanya cukup dibayar 10 bulan aja dalam setahun, jadi sisa 2 bulannya gratis (biasanya mulai pertengahan Juni sampai pertengahan Agustus, karena libur musim panas). Tapi kamu harus pastikan benar hal ini dengan pemilik apartemennya (landlord atau perusahaan). Ada yang mengharuskan kamu setidaknya sudah pernah tinggal di situ selama 6 bulan baru bisa dapat gratisannya.

Mahasiswa internasional biasanya bisanya mendaftar untuk mendapatkan apartemen siswa saja. Apartemen siswa biasanya berupa satu flat dengan beberapa kamar (2-6 kamar atau model asrama 5-10 kamar), dimana kamu harus berbagi dapur dan (mungkin juga) kamar mandi. Untuk mendapatkan apartemen pribadi, agak susah karena kamu harus punya personnummer dan (biasanya) penghasilan di Swedia. Untuk mencari tempat tinggal, bisa juga kamu lihat di situs jual-beli Blocket.se. Pilih link Bostad (tempat tinggal) dan pilih Hitta: Lägenheter (Cari: Apartemen). Ga bisa bahasa Swedia? Saya juga ga bisa 😆 Jadinya yah pake google translate aja. :p

Penting: biasanya jika sudah mendapatkan apartemen, pembayaran bulan pertama adalah harga apartemen per bulan dan harga uang jaminan. Uang jaminan biasanya sebesar harga apartemen per bulan. Dan biasanya uang ini kamu bayarkan ketika kamu menerima tawaran apartemen tersebut. Jadi meskipun misalnya kamu berangkat ke Swedia bulan Agustus, jika kamu mendapatkan/menerima tawaran apartemen bulan Maret, kamu harus membayar uang jaminan (+ uang sewa bulan pertama) pada bulan Maret.

Uang jaminan ini nanti dikembalikan setelah masa sewa apartemen selesai dan kamu lulus inspeksi apartemen. Inspeksi apartemen bisa juga dilakukan sewaktu-waktu dengan pemberitahuan sebelumnya dari pemilik apartemen. Jika setelah inspeksi, ternyata apartemenmu tidak lulus (entah kotor, ada peralatan yang rusak, dkk), maka uang jaminan bisa tidak kembali dan bisa saja kamu malah kena tambahan denda dari pemilik apartemen yang jumlahnya tidak sedikit.

Biaya Perlengkapan Apartemen

Sesampainya di Swedia, jika kamu mendapat apartemen yang berisi (full furnished – meja, tempat tidur, lemari baju, kompor, kulkas), kamu tetap harus membeli peralatan lainnya, semacam bantal, seprai, selimut, alat makan, dkk. Untuk alat masak dan makan, bisa saja kamu beruntung jika teman serumahmu sudah memiliki barang-barang tersebut, dan bersedia untuk berbagi. Jika kamu tidak beruntung, alias masuk ke apartemen yang belum berpenghuni atau dll, maka kamu harus beli semua peralatan ini sendiri.

Kalau untuk peralatan makan, gue saranin kamu cari di secondhand market. Contohnya kalo di Karlskrona ada di Pingstkyrkan dan Rödakorset (Red Cross). Harga piring, gelas sekitar 5-15 SEK per buah. Kalau sendok dkk, sekitar 1-5 SEK. Harga panci/wajan bekas sekitar 30-150 SEK. Jika ingin membeli peralatan baru, harga piring/gelas/sendok berkisar 50 – 200 SEK per buah. Harga panci/wajan baru sekitar 200-500 SEK.

Harga bantal/seprai/selimut berkisar antara 200-500 SEK. Jika kamu butuh vacuum cleaner, harga barunya berkisar antara 500-1000 SEK. Yang lainnya yang harus kamu beli misalnya perlengkapan cuci piring, sabun cuci baju, tisu kamar mandi. Dan semua ini tentunya harus kamu beli di minggu pertama ketika kamu sampai.

Kalo di kotanya ada IKEA, maka ke IKEA-lah, karena IKEA itu termasuk yang paling murah di Swedia :p Kalo ga punya IKEA, bisa cari di toko ICA, Hemtex, Åhlens, Jysk atau Rusta.

Biaya Hidup Sehari-hari

Dari sisa biaya bulanan kamu setelah dipotong biaya apartemen, kira-kira rincian biaya lainnya seperti berikut.

Keperluan Sekolah

Buku pelajaran biasanya cukup pinjam di Perpustakaan, baik perpustakaan sekolah ataupun perpustakaan kota. Sistem perpustakaan online juga sudah bagus, jadi biasanya kamu bisa baca buku secara online. Untuk scan dan print, biaya tergantung dari universitas masing-masing. Di BTH sendiri, ada banyak printer/scan yang disediakan untuk siswa. Scan gratis, biaya print sekitar 1-2 SEK per lembar. Umumnya tugas-tugas dikumpulkan secara digital (pdf) jadi biasanya jarang sekali menggunakan printer.

Untuk buku tulis, kamu bisa beli di toko buku Akademibokhandeln (semacam Gramedia), atau di toko pernak pernik murah meriah TGR. Harga buku/pena/pensil berkisar 20-100 SEK.

Makan dan Minum

Siswa di Swedia (lokal atau non-lokal) biasanya memasak sendiri. Dari pengalaman gue, satu minggu kebutuhan gue masak sendiri biasanya berkisar antara 150-300 SEK, tergantung apa yang pengen gue makan.

Sekedar gambaran: 1 kg ayam beku = 30-70 SEK, 1 kg beras = 20-40 SEK, 15 butir telur: 18-30 SEK. 1 liter yogurt/susu = 12-25 SEk, 1 kantong roti biasa = 15-25 SEK, 1/2 kg daging sapi giling = 40-70 SEK, 1 kg apel = 16-40 SEK, 1 kg pisang = 20 SEK, 1 bungkus indomie (bagi yang beruntung menemukan) = 5-8 SEK.

Untuk makan di luar, satu kali makan berkisar antara 60-200 SEK. Kalau makannya pengen steak dkk bisa di atas 300 SEK per kali makan.

Air minum (air putih) biasanya tinggal buka kran. Tapi jika rumahnya jauh dari kota yang kemungkinan air kran tidak bisa diminum atau sedang makan di luar, air mineral atau minuman bersoda berkisar antara 20-40 SEK per botol/kaleng. Jika di restoran, minuman berkisar antara 60-120 SEK.

Toko-toko makanan dan perlengkapan sehari-hari contohnya ICA, Willy’s, Lidl, dan Coop.

Edit: tambahan penting buat yang suka ngafe-ngafe ngopi-ngopi dan makan kue. Untuk Negara Fika ini, harga ngopi-ngopi cantik berkisar antar 25-60 SEK. Harga kue kering cilik di cafe 5-20 SEK. Harga kue basah (cake, muffin) sekitar 30-60 SEK. Sandwich 60-100 SEK. Makan di restoran dan di kantin sekolah, sama mahalnya. Hanya saja untuk siswa, di kantin sekolah biasanya tersedia kartu langganan dengan keuntungan diskon 10-15%.

Transportasi

Beda kota beda biaya transportasi. Biaya transportasi sekali jalan (bis/kereta bawah tanah) sekitar 20-30 SEK. Biasanya setiap kota menyediakan kartu langganan bulanan, tergantung dari masing-masing kota dan zona yang diinginkan, biayanya berkisar 500-1200 SEK per bulan.

Jika ingin ke luar kota, biaya kereta berkisar 80-3000 SEK. Misalnya dari tempat saya di Karlskrona, pergi ke Stockholm menghabiskan 1000-2000 SEK untuk perjalanan pulang pergi. Harga dan jadwal bis/kereta dapat di cek di SJ.se, Öresundståg, Blekingetrafiken (untuk di propinsi Blekinge, di tempat gue), Skånetrafiken (untuk propinsi Skåne), SL.se (Stockholm).

Swedia merupakan salah satu negara yang Bike Friendly. Kamu bisa beli sepeda bekas seharga 300-1500 Kronor. Bisa cari lewat Blocket juga, atau dari informasi yang kamu dapat di universitas ketika sudah mulai bergaul. Gaul yang banyak ya. *lah*

Pengen bawa mobil? Kalo kamu punya SIM International, bisaaa. Mobil baru berkisar 90.000-300.000 SEK. Ga mampu? Tenang, bisa beli mobil bekas, harganya yang 5000 SEK juga ada. Kondisinya gimana? Wallahualam. Hihi. Harga bensin sendiri seliter sekitar 12-15 SEK.

Pengen bawa motor? Gue sungguh jarang melihat orang lalu lalang pake motor di Swedia. Berhubung transportasi umum sangat nyaman (walopun masih suka telat), dan fasilitas mendukung, cuaca mendukung, gue lebih banyak lihat orang yang naik transportasi umum dan bersepeda. Atau andalan gue: jalan kaki.

Telepon/Internet

Pada intinya internet gratis tersedia di mana-mana di Swedia. Terutama untuk siswa yang pastinya punya akses Eduroam (jaringan internet untuk universitas-universitas di Eropa). Di mana ada universitas, di banyak negara Eropa, kamu bisa dapat internet gratis dan cepat wuss wuss ga kayak internet rumah gue di Pontianak ini yang 1Mbps aja ga nyampe 😆

Komunikasi gue selama di Swedia kebanyakan menggunakan Skype, facebook, Whatsapp, Line, Facetime, apapun yang pake internet gratis. Haha. Tapi terkadang memang bisa saja kamu butuh koneksi 3G/4G di hape kamu untuk keadaan mendesak, ataupun pulsa telepon biasa. Untuk biaya ini, per bulan bisa lah dianggarkan 100 SEK. Di kasus gue sih, gue malah beli mungkin 6 bulan sekali. Buat sekali-kali pake aja kalo gue butuh ke kota lain dan butuh pulsa telepon biasa.

Pakaian

Karena Swedia termasuk negara kulkas dengan 4 musim, maka pastinya kalian perlu beli jaket winter tebal yang bikin badan keliatan kayak bola dong *lebay*. Jika beruntung dan rajin nyari ke secondhand, kalian bisa dapat jaket yang bagus seharga 100-300 SEK. Jaket baru, harganya berkisar 1000-3000 SEK, bisa kalian beli di toko-toko Sport seperti Stadium dan Intersport. Jaket yang bagus (hangat) biasanya mengandung bahan wol, fleece atau down (bulu bebek/angsa).

Jika ingin pergi ski atau berkunjung/tinggal di Swedia utara, maka mungkin perlu celana winter yang afdol juga, barunya pun berkisar antara 500-2000 SEK.

Harga topi, sarung tangan, kaos kaki wol/non-wol berkisar antara 150-400 SEK. Sweater atau baju dingin, harga barunya berkisar antara 200-500 SEK. Celana jeans, 200-500 SEK. Baju blouse biasa, t-shirt, dkk 50-400 SEK.

Baju-baju termurah biasanya bisa kamu dapat di H&M atau bisa juga sekali-kali cek ke Lidl. Biasanya kalo off season (1.5-2 bulan setelah pertama kali keluar), diskonnya bisa sampe setengah harga.

Biaya perawatan tubuh

Alias sampo dan lain-lain. Sabun/Sampo/conditioner berkisar antara 20-40 SEK. Kalau mau potong rambut, terutama buat cewe-cewe cantik seperti kita semua, biayanya paling tidak 400 SEK. Biaya pijit, sekitar 400-600 SEK untuk 30 menit. Gue sih selama di sana pernah sekali spa ditraktir, dan ga pernah potong rambut di salon. Gue ngewarnain rambut sendiri (per kotak 90-140 SEK), dan dikit-dikit trim rambut sendiri. Yang tadinya rambut ala-ala Sarah Sechan jeman cepak, dalam dua tahun sekarang jadi ala Raisa deh rambut gue. 😆

Biaya Olahraga/Gym

Jika kalian senang lari dan bersepeda, maka biaya olahraga tentu saja gratis. Karena Swedia juga merupakan negara yang ramah pejalan kaki, trotoar dan jalur bersepeda ada di mana-mana. Orang-orang jalan kaki, lari, bersepeda bisa kapan aja, pagi, siang, malam, ketika bersalju, pas angin kencang.

Tapi kalo memang cuaca lagi ekstrim, dan memang senang ikut kelas-kelas seperti yoga, zumba, dan butuh latihan angkat-angkat beban, biaya gym di Swedia berkisar antara 200-800 SEK per bulan. Biasanya kalau bayar per tahun biaya per bulan lebih rendah, dan sebaliknya.

Ketika di Karlskrona, gue kadang bermain bulutangkis dengan biaya 20 SEK (untuk siswa) sekali main. Berenang biayanya 30 SEK untuk sekali masuk. Ada beberapa klub olahraga seperti karate, muay thai yang biayanya berkisar antara 1000-2000 SEK per bulan atau per semester.

Biaya senang-senang

Masuk Museum berkisar antara 0-150 SEK. Nonton bioskop, harga tiket berkisar 90-150 SEK. Makanan di bioskop (popcorn+minum) sekitar 50-150 SEK. Jika tinggal di dekat pantai, harga sewa kano di musim panas sekitar 100-300 SEK per hari.

Minuman beralkohol di atas 4% hanya dijual di satu toko (Systembolaget). Bir/Cider berkisar antara 15-40SEK, Wine 70-250 SEK, Vodka dkk 100-300 SEK. Jika minum di restoran/bar/pub, satu gelas bir/cider 60-120 SEK, coktail 120-200 SEK, shot 100-200 SEK. Masuk club malam berkisar antara 100-200 SEK.

Cuci Baju

Gue belum pernah nemu londri kiloan sih di Swedia (lol). Biasanya apartemen yang disewakan di Swedia sudah menyediakan ruang laundri bersama ataupun pribadi, yang isinya mesin cuci, mesin pengering, dan mungkin ada ruang jemur. Jadi biaya cuci baju bisa dibilang gratis. Kecuali kalo kamu butuh jasa khusus untuk baju khusus, misalnya setelan jas atau jaket tebal. Gue sih belum pernah, tapi denger-denger biayanya bisa di atas 500 SEK untuk satu setel baju (kalo ini gue belum nyari referensinya :p)

Hal Tak Terduga

Misalnya kayak kejadian pintu kamar apartemen gue terkunci dan kuncinya di dalam kamar, gue harus merogoh kocek 300 SEK, cuma buat minta dibukain pintu.

Biaya Perjalanan Pulang Pergi Indonesia-Swedia

Ini penting juga ya dimasukin ke anggaran kamu. Biaya ini bisa termasuk pesawat dan biaya kereta. Jika kamu nantinya bersekolah di kota yang tidak memiliki bandara, maka kamu harus naik kereta api dari kota terdekat (Stockholm/Gothenburg/Malmö/Copenhagen).

Biaya pesawat bisa berkisar antara 5000-12000 SEK sekali jalan (sila cek ke Skyscanner.net). Untuk kereta api, kamu bisa cek biaya transportasi yang sudah gue kasih di atas tadi.

Kesimpulan

Fyyyuh, akhirnya nyampe juga di sini yah 😆 Jadi udah bisa kebayang berapa biaya yang kamu perlukan untuk kuliah di Swedia? Gue bikinin kesimpulannya nih ya. Untuk kuliah 2 tahun, kamu butuh:

  1. Pendaftaran kuliah: 900 SEK.
  2. Tuition fee, setidaknya: 200.000 SEK.
  3. Pengajuan residence permit: 1000 SEK.
  4. Perpanjangan residence permit: 1000 SEK.
  5. Biaya hidup 2 tahun: 8000 SEK * 20 bulan = 160000 SEK
  6. Biaya tinggal di Swedia untuk musim panas (jika apartemen gratis), setidaknya: 4000 SEK * 4 = 16000 SEK
  7. Biaya perjalanan pesawat pp sekali, setidaknya: 15000 SEK
  8. Uang jaminan apartemen, setidaknya: 5000 SEK
  9. Biaya perlengkapan di bulan pertama, perlengkapan musim dingin, setidaknya: 2000 SEK.

Total : 400.900 SEK. Belum termasuk Asuransi Kesehatan (jika harus ditanggung sendiri)

Mahal? Emang iya. Alhamdulilah, gue kemaren pas punya rezeki 🙂

Maka, silakanlah berebut beasiswa sodara-sodari. Beasiswa dari pemerintah Swedia, bisa dicari di melalui Swedish Institute. Beasiswa lain, silakan cek ke sini: http://bfy.tw/52fh :p

Sedikit tambahan, mungkin ada yang bingung (terutama kalo para pencari beasiswa), gue ikut program Erasmus Mundus tapi kok ga beasiswa? Well, Erasmus Mundus itu, ada yang beasiswa, ada yang tidak. Intinya program ini memfasilitasi joint-program antar universitas di Eropa. Biaya Erasmus Mundus sendiri juga tergantung dari program yang diinginkan, karena biaya hidup dan kuliah di tiap negara-negara berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya, ntar kalo ga males, dibikin postingan sendiri ya 😀

Satu lagi, kalo 1 Swedish Kronor (SEK) berapa kakak? Silakah cek di sini: http://bfy.tw/52T5

Kalau mau baca tentang apartemen gue selama tahun pertama gue di Swedia, silakan ke sini.

Sumber

[1] https://www.universityadmissions.se/en/All-you-need-to-know1/Applying-for-studies/Fees-and-scholarships/Paying-your-application-fee/ diakses tanggal 1 April 2016.

[2] https://studyinsweden.se/study-information/fees-and-costs/ diakses tanggal 1 April 2016.

[3] http://www.swedenabroad.com/en-GB/Embassies/Jakarta/Study-in-Sweden/Applying-for-a-residence-permit-to-study-in-Sweden/Fees/ diakses tanggal 1 April 2016

[4] http://www.migrationsverket.se/English/Private-individuals/Studying-in-Sweden/Universities-and-university-college.html diakses tanggal 1 April 2016.

[5] http://www.migrationsverket.se/English/Private-individuals/Studying-in-Sweden/Fees.html diakses tanggal 1 April 2016.

[6] https://www.axa-insurance.co.id/385/en/personal-insurance/travel/international-student-protection diakses tanggal 1 April 2016.

[7] https://studyinsweden.se/life-in-sweden/practical-advice/ diakses tanggal 1 April 2016.

Musim Saljuku yang Kedua

Musim Saljuku yang Kedua

Apdet blog demi memuaskan kekepoan beberapa temen.

Hm.. So what do we missed from my life?

Thesis belon kelar, sodara-sodari. Kesempatan berikutnya bulan September. Mari didoakan rame-rame.

Nyari kerja juga belum dapat-dapat. Mari didoakan rame-rame juga.

Trus apalagi ya…

Pamer foto aja lah..

Intermezzo:

Jadi aslinya gue ke luar negeri ini kan pengen nikmatin winter yang banyak salju. Trus biar bisa gegayaan pake coat/jaket keren dan sepatu boots. Yang dimana ketika gue nyoba gegayaan di Indonesia pake boots, adanya gue dikatain mau pergi ke sawah. Sementara kalo pake coat, adanya gue jadi cacing kepanasan.

Tetapi oh tetapi, tahun pertama gue tinggal di Swedia, biar dikata bisa dibilang negara kulkas, musim saljunya irit banget. Salju cuma bertahan 2 minggu. Meskipun sempet main seluncuran (cuma sekali) dan menikmati pemandangan laut beku, tapi gue ga puas. Mana denger cerita kalo setahun sebelum gue dateng, saljunya bertahan 6 bulan aja cyiiin. Sampe orang2 pada bisa pake motor salju di laut. Ish, aku kan pengen. Berharaplah daku kalau musim salju tahun depan (alias awal tahun kemaren), bisa banyakan saljunya.

Ternyata harapan gue tidak dikabulkan juga euy. Musim salju tahun 14/15 ini di Karlskrona, saljunya cuma bertahan…. Coba tebaak!!

3 HARI DOANG!!

Buset dah ya… Karena itu dalam waktu 3 hari, sempet2in lah poto-poto selfie demi mengabadikan momen salju seuprit itu..

Poto-potonya seuprit doang juga sih, tapi kan lumayan ya buat pamer-pamer. Silakan diklik di galeri/fotonya buat ngeliat dengan ukuran gambar yang lebih besar.

Sekian dan terima bingkisan indomie.

It’s Finally Snowing!

It’s Finally Snowing!

Baruuu aja kemarin bikin posting menye-menye gara-gara salju ga turun-turun, eh hari ini dari pagi sampai post ini di-publish (jam 6 sore), hujan salju ga habis-habis aja doooong!

A day before the snowy day
A day before the snowy day

Jadi deh tadi pagi gue ke kampus di bawah naungan hujan salju, dan pulang juga di bawah naungan hujan salju dan udah nginjak-nginjak tumpukan salju yang setidaknya 10-15 cm!

Awwwww!

Bahagianyaaa!

Alhamdulillahirobbil’alamiiiiin! Terima kasih ya Tuhaaaan!!

*posting ini singkat karena gue udah ga bisa berkata-kata lagi untuk kenikmatan dunia hari ini*

Snowy land looks like from second floor of J-Building in Blekinge Institute of Technology, Karlskrona, Sweden.
Snowy land looks like from second floor of J-Building in Blekinge Institute of Technology, Karlskrona, Sweden.
My favourite houses in Snow! Right at the back of my Apartement in Sweden! Love it!
My favourite houses in Snow! Right at the back of my Apartement in Sweden! Love it!

Sekarang tinggal cari korban buat gue timpukin pake salju! Atau malah gue yang ditimpukin?? Both way, I’m sure it will be fun! *nungguin dedek bule yang belum pulang-pulang*

Karlskrona in Autumn

Karlskrona in Autumn

Nah, postingan kali ini akan penuh dengan foto.

Sebelumnya foto-foto ini gue aplod di fesbuk, tapi mungkin ada beberapa pembaca yang ga temenan sama gue di fesbuk. We’re not friends, man.. We’re not.. Ckckckck.. *halah* Jadilah beberapa gue posting di sini juga. Untuk memuaskan permintaan pembaca juga yang pengen tau Kota (yang sangat kecil sekali) tempat gue tinggal ini kayak gimana.

So, please enjoy.. 😉

Apartemenku di Swedia

Apartemenku di Swedia

Jadi ini ceritanya sambil nunggu londrian dikeringin, yang kira-kira selese jam 12.30 (tengah malam). Tadi sih mulai ngelondri jam 8 malem, e taunya diundang ke rumah temen, orang Indonesia, yang lagi latihan masak opor ayam. Padahal sebelumnya gue udah masak fettucini pake udang dan bayam gitu deh, tapi mana tahanlah hati ini menolak dimasakin opor ayam 😆 Jadi deh gue ke rumah dia. Jam 11 malem tadi baru pulang, baru mindahin londrian ke mesin pengering.

Nah sambil nunggu, nih gue ceritain tentang apartemen gue di sini. IYA YANG INI ADA GAMBARNYA.. tapi bukan gambar John yaa, abis orangnya gak di rumah seharian, ketemunya tadi pas gue keluar pintu, eh dia mau masuk. Jadi, maap kalo mengecewakan.. 😆

Awalnya gue mo cerita dulu, gimana caranya buat dapetin sewa apartemen di Karlskrona ini. Jadi gue dikasih beberapa link dari website kampus gue, dan berdasarkan saran-saran dari teman-teman Indonesia lainnya, gue pilih untuk mendaftar melalui Karlskronahem, semacam housing company gitu. Jadi di sini tuh, jarang banget nyari apartemen yang kayak model cari kos-kosan gitu. Kebanyakan pesannya online lewat housing company. Dan apartemen untuk pelajar dengan untuk profesional/yang sudah berkeluarga biasanya beda tipe.

DSCN0983

Untuk pelajar sendiri, biasanya sharing antara 2-5 orang. Gue ga mau kalo sharing dengan terlalu banyak orang, jadi gue cari apartemen yang sharing dengan 1 orang lainnya aja. Karena akan lebih nyaman untuk pakai kamar mandi dan dapur. Kalo ramean, rebutan aja pastinya pas mo berangkat kuliah kaaaaaaann.. Dan berhubung ini di luar negeri, ga banyak pilihan untuk apartemen yang sharing dengan cewe aja. Jadi deh gue dapat flatmate-nya cowok, yang taunya juga pas udah nyampe apartemen.. Hehehe..

Pesan apartemennya sendiri gue lakukan sejak bulan Mei, sejak gue nerima Admission Letter dari kampus gue. Karena modelnya waiting list, jadi siapa cepet dia dapat. Untungnya gue dapet apartemen yang ini, karena deket dengan kampus (jalan kaki paling 5 menit) dan view-nya ngadep laut doooong! *joged landak*

Nah terus, kondisi apartemennya gimana?

Koridor

Begitu masuk apartemen, langsung dihadapkan ke lorong yang langsung menuju kamar mandi. Kamar-kamar tidur di sebelahnya lorong ini. Kursi dan meja itu punya-nya John, gue kagak tau juga buat apaan, keknya sih udah sebulan gue disini, cuma dipake buat numpuk barang (yang katanya dia sih mau dibuang, tapi actionnya kagak ada), dan dibiarin gitu aja, karena orangnya mendem terus di kamar kalo pas ada di rumah. Gue udah nyoba duduk di situ, enak e, empuk.. Apa gue masukin aja satu ke kamar gue ya? 😆

Koridor_3

Di sebelah pintu masuk, disediain rak buat gantung jaket-jaket, dan ya di atas situ ditumpuk majalah-majalah dan koran-koran yang gatau itu langganan ato gimana, tapi keknya tiap bulan dianterin. Dan karena ga punya rak sepatu, jadinya ya sepatu-sepatu kami biarin aja bergeletak gitu di lantai. 😛

Koridor_2

Masuk rumah, ke arah kanan, langsung dihadapkan dengan dapur. I loooooove this kitchen! Siapa yang ga seneng masak, kalo dapurnya kayak gini. Beda 180 derajat sama dapur waktu di kosan di Jakarta dulu ya. Yaiyalah dulu itu dapurnya cuma disediain kompor gas, bak cucian seuprit, dan buat dipake rame-rame ber-30 orang (kayaknya). Dan dideket kosan ada warteg murah meriah, ya mending gue beli warteg aja lah tiap hari. Tapi kalo di sini, masak tiap hari, 3 kali sehari pun aku rela. 😆

dapur_1

dapur_2

Bagian yang paling gue suka, ya bumbu-bumbu warna-warni di atas kompor. Lengkap deh, semua ada. Cuma yang gue pake palingan lada putih sama garam doang. Hahahaha.. Bagian yang paling gue ga suka, ya rak-rak yang di atas itu! GUE KAGAK NYAMPE! nasib jadi hobbit. Jadi pas baru nyampe, besoknya gue langsung bilang sama John, tuker dong bagian naroh barang-barang, biar barang-barang gue di rak-rak yang bagian bawah aja, jadi ga perlu jinjit/loncat2 kalo mo ngambil barang. 😆

dapur_3

Oh, dan buat naroh sampah, ada lemari di bawah bak cucian. Dan dipisahin antara, sampah kaleng-kaleng, botol plastik, sampah organik, dan sampah non-organik 😀 Urusan buang sampah ini, akan menjadi postingan menarik lainnya yaa.. 😛 Satu lagi info penting *halah*, di tempat cuci piring ada sikat yang pegangannya panjang warna biru itu kan? buat apa? Ih ndeso ya kitah, ya itu buat cuci piriiiing.. Kalo di Indonesia kan biasanya pake sabut doang tuh (yaoloh jadul deh bahasa gue), nah kalo di sini, biar cepet, ya disikat aja piring/wajan/dll-nya, jadi benda-benda yang lengket itu kan gampang lepasnya. Cepet bersih deh. 😆

dapur_4

Paling menyenangkan lagi, view dari dapur ke luar dooooooong 😉

dapur_5

Terus, lanjut ke kamar mandi yaa.. Kamar mandinya simple aja kok, cuma itu showernya bagi gue agak kekecilan, secara tiap mandi entah kenapa tangan gue lah, ato kaki gue lah, pasti ada nendang-nendang itu kaca pembatas 😆 Gue padahal mungil gini loh, mandinya lasak! Begimana si John yang badannya raksasa gitu ya.. Hihihi.. Oiya jadi inget, pas malem pertama nyampe, gue tuh ga bawa sabun dan sampo dong. Lupa mo beli sachet2an gitu. Jadi akhirnya ngetok kamar si mas bule brondong ini, dan dengan polosnya bilang, minta sabun dan samponya. Jadi deh gue bau AXE, tapi kenapa gak ada bidadari turun dari surga jatuh di hadapanku ya.. Eaaaa… 😆

bathroom

Next, yang paling penting! Kamar gue doooongg.

kamar_1

Untungnya apartemen gue ini udah bisa dibilang full furnished lah. Udah ada tempat tidur, meja belajar dan rak buku. Cuma yang paling bikin gue bingung, gak ada lemari pakaian!!! HWHAAATT?? Begimana ini naroh baju-baju gue?? Oiya, sebelumnya sempet gue ceritain kan, kalo temen baru gue, orang Indonesia, udah duluan ngambilin kunci-kunci apartemen gue, karena gue nyampenya jam 7an, dan kantor Karlskronahem-nya udah tutup. Jadi deh baru besoknya gue datengin itu kantor, dan protes nanya, kenapa gak ada lemari bajunya. Eh dengan polosnya si ibuk staf menjawab, “tapi di luar ada lemari kan, di koridor?”. Gue menatap dengan tak percaya, “iya sih ada, tapi mosok baju-baju saya di taroh di lemari di luar?” EH PLIS DEH. Kalo flatmate-nya cewe, mungkin cuek aja ya.. Lah ini flatmate-nya cowok.. Ane kan orang Indonesia, bu. Masih punya tata krama getoh (sok). Dan lemari di luar itu ya nempel sama bangunannya, ga bisa dipindah2in kaliiiiiikkk!! Jadi deh akhirnya sebagian rak buku gue jadiin lemari baju dadakan. Untung rak bukunya segede gaban.

kamar_2

Besoknya gue ceritain ke John, nanya apa di kamarnya ada lemari baju, eh ada dong. Pas denger cerita gue, dia cuma bilang.. “Hooo, pantesan kamarnya keliatan lebih luas.” GUBRAK! 😆

Baidewei, ini penampakan kamarnya kalo di malam hari. Lampunya kuning gitu lah kayak di hotel, yang sukses bikin gue males belajar tiap malem. Jadinya kalo mo belajar, gue ngendon di dapur, karena lampunya lebih terang. Hihihi..

kamar_3

Dan ini penampakan apartemennya dari luar. Kamar gue keliatan di paling kanan bawah. Langsung menghadap laut.

DSCN1535

Dan kalo jalan dikit ke luar, pemandangan sore-sore-nya nampak seperti gambar panorama di bawah.

DSCN1501

Jadi gimana, udah ga penasaran lagi kan sama apartemen gue? 😉

Sweden – Residence Permit

Sweden – Residence Permit

As I said before on this blog, I’m going to continue my study in Software Engineering starting this September in Sweden. I will get there in August, 2 weeks before my courses start, to adapt myself in a significant new environment. I said “significant”, because at this moment I’m living in a crowded and busiest city in Indonesia called Jakarta, and I’ll be living in a quiet peaceful village (as mentioned by my new friend in there) called Karlskrona, and I will be living surrounded by Sea! Yeah! Sea!

Now, before I could get there, as an Indonesian, I need some kind of visa to enter Sweden. For you, Indonesian, who wanted to study in Sweden, I’m going to inform you how to get a Residence Permit to Enter Sweden. Wait, is it a Visa or is it the Residence Permit? A Visa is needed when you intend to live in Sweden for not more than 3 months, for students who will be living at least a year, must apply for a Residence Permit.

This is how it looks like
This is how it looks like

Now, this is what you have to do to:

  1. Make sure you have an Admission Letter from your aim University, in my case it is from Blekinge Institute of Technology (BTH). Most of students who aim a Sweden University, applied from universityadmissions.se. I was applied for Erasmus Mundus in Software Engineering (EMSE), so my first Admission Letter was coming from EMSE Consortium. Later on I’ve been told, that I will received another Admission Letter from BTH, and this letter came on late May.
  2. Make sure you have paid for your Tuition Fee. Though I was applying through Erasmus Mundus Consortium, I didn’t get the scholarship, which means I have to pay the study (and my living cost) on my own. After I received BTH’S Admission Letter, I processed the tuition fee payment immediately. The BTH’s staff informed me when the payment is received, and I can continue to the next step.
  3. Make sure you had a Health Insurance. If you are a scholarship recipient, this should be provided by your scholarship provider. if you are not, then you must have a 30.000 euros insurance, provided by any insurance company here in Indonesia. Thanks to God, I didn’t have to prepare that sum of money because my University provides the Health Insurance.
  4. Make sure you have sufficient amount of money for your living cost, printed on your own name. In my case, I will be studying in Sweden for a year, then continue the study in Germany. When you apply for a year, you only need to have 10 months living cost of 7300 SEK (Swedish Krona) per month. So the total amount in your bank account should not be less than 73000 SEK (109.500.000 rupiahs / $10.950). You can ask your bank to provide a Recommendation Letter, a proof that state you have this amount. But my method was: I scanned my bank account book, then printed the last 6 months journal of my account transaction from internet banking.
  5. Now, you have your Admission Letter and Health Insurance, you have paid your tuition fee, and you have your bank proof, you only need to scan it all (if they didn’t come as digital file) and a scan of your passport (the identity information and pages contain stamped from other places you went).
  6. Apply Online. Yes, it is online. Prepare about 40 minutes to 1 hour of your time in front of the computer to fill some form and upload your files. It’s easy and fast. But if you cannot apply online, you need to download a form and send it with copies of your files to Sweden Embassy in Jakarta.

I put my data online on 05/29, I got a phone by Sweden Embassy’s staff two days later telling me that I have granted the residence permit, and I have to come to Sweden Embassy’s office on 05/06 to take picture, fingerprint and signature, no interview needed. Very fast, huh? Yeah, I like Sweden already!

I finally got my Residence Permit card last thursday, 06/20 (as they promised me in advanced that the card will be delivered in two weeks). There’s no need to put some stickers on my passport, because the card itself have a same function as a Schengen Visa. This means, I can travel the whole countries in Europe that allows Schengen Visa! I hope I can make time and money to do the travel! Amin!