Bangkok – Departure

Bangkok – Departure

kiri ke kanan: Nena, saya dan Carrie, di ruang tunggu nunggu boarding ;-)
kiri ke kanan: Nena, saya dan Carrie, di ruang tunggu nunggu boarding πŸ˜‰

Setiap akan melakukan perjalanan ke luar kota/negeri, kedua orang teman jalan-jalan saya, Nena dan Carrie, bisa mempersiapkan barang bawaan (alias packing) dari seminggu sebelum berangkat. Bahkan bisa berbulan-bulan sebelum berangkat! Nah kalo saya? Akhir-akhir ini jadi kebiasaan, packing ini saya lakukan 30 menit hingga 1.5 jam sebelum waktu berangkat dari kos πŸ˜† I am a flash packing person, yang akhirnya efeknya adalah baju-baju yang saya bawa kadang suka salah kostum πŸ˜†

Jadilah pagi itu, karena dijanjikan oleh Nena, saya dan Carrie (yang satu kos-kosan) akan dijemput pukul 4.30 pagi. Saya bangun jam 3 pagi untuk mulai packing. Mulai packing disini, bukan maksudnya mulai masukin barang-barang ke dalam koper ya. Tapi mulai dari mikirin, mau bawa apa aja ke Thailand πŸ˜†

Setelah ribet sendiri karena diburu-buru waktu, akhirnya berhasi bawa baju sedikit aja, dengan pertimbangan toh nanti di Bangkok kami akan belanja-belanja hemat πŸ˜› Koper setengah penuh dan ga pakai mandi, saya dan Carrie berjalan geret-geret koper sampe ujung gang. Pas keluar gang, pas banget taksinya muncul. Klop deh, ga perlu nunggu lama πŸ˜‰

Perjalanan dari Slipi Jaya ke Bandara Soekarno Hatta lancar jaya di subuh hari itu. Kami menggunakan maskapai penerbangan Air Asia, yang baik penerbangan domestik maupun internasional sekarang bertengger di Terminal 3. Sesampainya di bandara, sudah ramai aja cyyiin. Tentunya banyak orang yang mau pergi liburan kayak kami lah yaaa, kan minggu depannya, Selasa tanggal 12 Maret 2013 adalah hari Nyepi yang menjepit hari Senin, jadinya kan long wiken kalo pas bisa ngambil cuti. Bagi saya dan temen-temen saya, this became a very long weekend πŸ˜†

Langjut!

As usual, karena pakai Air Asia, Nena sudah melakukan mobile check-in 3 hari sebelum keberangkatan. Sampai bandara, kami cukup print boarding pass lewat mesin-mesin self service yang disediakan. Karena kali ini perjalanan model cantik berkoper, jadilah mau ga mau harus masukin bagasi. Kami sudah memesan 20 kg untuk berangkat hari itu.

our boarding pass (photo by Nena)
our boarding pass (photo by Nena)

Antrian untuk drop baggage hanya sedikit. Kalau ga salah saya, saat itu hanya 2 orang di depan saya. Hanya saja gatau kenapa, petugas bandaranya lamaaaaaa banget nanganin per orangnya. Ga berapa lama, petugas lain teriak-teriak manggil penumpang pesawat jam 6 pagi (saat itu pukul 5.20 pagi) karena akan didulukan proses check-in-nya. Hadiiih, please deh, hari gini masiiiih aja ada orang yang suka check-in mepet-mepet. Bukannya saya ga pernah ya, pernah sih, and I really hate myself because of it, karena mengganggu kenyamanan penumpang laen yang mau ga mau jadi nungguin saya. 😐

Ga beberapa detik setelah di mas-mas petugas tadi teriak-teriak, jalur yang harusnya jadi jalan keluar setelah selesai baggage-drop, malah jadi antrian check-in penerbangan yang 10 menit lagi mau boarding itu. Haduuuh, jadi pengen tabok jidatnya Syahrini deh biar cetar membahana!

Akhirnya setelah 10 menit menunggu dan geleng-geleng sama kelakuan orang Indonesia yang suka semena-mena ngantri ga pada tempatnya, tibalah giliran kami untuk masukin bagasi. Walaupun sebelumnya sudah print boarding pass, sepertinya ga guna juga karena urusan masukin bagasinya tetep lama kayak check-in ulang 😐

Ga berapa lama kami di situ, eh ada bapak-bapak nanya ini itu dan tentu saja jawabannya si mbak petugas, “iya sebentar, antri dulu ya pak”. Beribu kali cetar! Ga berapa lama lagi, datang ibuk-ibuk yang sempat saya ceritain di postingan sebelumnya. Pesawat di tiket pukul 5.40 dan dia baru mau check-in jam 5.30! Tentu saja di tolak mentah-mentah sama si mbak petugas, karena pintu pesawat sudah ditutup, dan pesawat ready to take off. Tapi si ibuk-ibuk ini tetep keukeuh bok! Ga liat apa kita lagi ngantri πŸ™„ dengan alasan si anak sakit, si ibuk tetep pengen di prioritaskan agar bisa masuk pesawat. Lah kalo emang pesawatnya udah di runway mau take off, mau apa lagi ibuuuk? Mesti belajar dari si om roy suryo ini kali ya *ngilang*

Dan yang lucunya lagi, waktu ngomong mohon-mohon sama si mbak, si ibuk pakai bahasa inggris. Jadi kami pikir dia orang luar lah yaaa.. Eh ga berapa lama, mas petugas di sebelah mbak-mbak juga komen ngasih tau, bahwa si ibuk ga bisa lagi check-in. Trus tiba-tiba si ibuk ini berubah ngomong pakai bahasa indonesia yang lancar jaya baik dan benar bok! Hahahaha πŸ˜† aneh aja gitu rasanya πŸ˜›

Anyway, kembali fokus ke kami.

Setelah menunggu agak lama, baru deh bagasi di hitung beratnya. Aaaaaandd, Jeng jeng jeng! Over baggage doooong! Hahahaha πŸ˜† Pesennya 20 kg, tapi ternyata barang bawaan kami bertiga mencapai 26 kilo! Akhirnya dengan buru-buru bongkar koper, beberapa barang di koper Carrie masuk ke koper saya. Koper saya dan Nena masuk bagasi, koper Carrie terpaksa di tenteng ke kabin πŸ˜›

Setelah selesai urusan bagasi dan tak lupa bayar Airport Tax Rp. 150.000,- saatnya menuju ruang tunggu. Nongkrong dulu di cafe, nunggu Nena sarapan. Melihat antrian cap paspor udah mulai ramai, kami memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu saja walaupun berangkatnya masih satu jam lagi.

Mulai ngantri. Trus ga berapa lama, lagi-lagi ada mas-mas yang teriak-teriak cari penumpang yang mau kemana lah yang mana pesawatnya udah boarding dan harap yang antri di depannya ngasih jalan lewat duluan buat orang-orang tersebut. Kali ini saya rasanya pengen jambak jambulnya Syahrini πŸ˜† haduuuuh, tinggal ngurut-ngurut dada aja laah.. *dada chris evans*

Fast forward, pokoknya udah di ruang tunggu aja. Trus udah boarding aja. Trus udah di pesawat aja. Trus trus trus, baca postingan berikutnya yaa πŸ˜‰

Advertisement
Bangkok – Preparation

Bangkok – Preparation

Bangkok Trip - Signed Passport
Bangkok Trip – Signed Passport

Seperti yang saya sampaikan pada postingan saya sebelumnya, saya akan cerita sedikit mendetail mengenaiΒ 6 hari jalan-jalan saya selama di Bangkok, Thailand. πŸ˜€

Let me begin with things must be prepared before departure:

Tiket, Transport ke Bandara dan Airport Tax

Pulang pergi dari Jakarta – Bangkok, saya menggunakan maskapai penerbangan murah meriah : Air Asia. Tapi ini gak ngiklan ya.. hehe.. karena walaupun trip ini kami rencanakan 5 bulan sebelumnya, sebenernya dapat harga tiket PP-nya juga ga murah-murah amat sih. Sepertinya kami belum rezeki rebut-rebutan tiket yang harga 10 ribuan itu.. Hiks.. Harga tiket pulang-pergi saya kemarin adalah 1.950.000,00 rupiah. Bagi saya, harga ini masih termasuk murah untuk keluar negeri. Karena biasanya untuk pulang kampung ke kalimantan saja, saya menghabiskan 1.5 – 2 juta untuk tiket pulang-pergi πŸ™‚

Jangan lupa untuk biaya transport, tetap harus dimasukkan biaya dari tempat-tinggal sampai bandara dan sebaliknya. Kemarin karena bertiga, maka kami memutuskan untuk pakai taksi ke Bandara. Dari tempat teman saya di Jalan Bangka, Jakarta Selatan, kemudian menjemput saya dan temen saya satunya (yang kebetulan satu kos) di Slipi Palmerah, hingga ke Bandara menghabiskan biaya 120.000,00 rupiah termasuk uang Tol. Untuk biaya pulang dari Bandara ke kos saya, kurang lebih sama πŸ™‚

Dan di Indonesia ini, untuk berangkat ke luar negeri, masih dikenakan biaya Airport Tax sebesar 150.000,00 rupiah. Sementara tiket pulang Bangkok – Jakarta sudah termasuk Airport Tax, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya lagi di Bandara Bangkok. Ketika saya ke Bangkok, bandara untuk Air Asia adalah di Don Mueang.

Bagasi

Maskapai Air Asia secara default tidak menyediakan gratis fasilitas untuk bagasi. Sehingga jika akan membawa bagasi, maka harus membeli. Perhatikan betul ketika mau pergi liburan, apakah mau backpacking style atau mau geret-geret-koper style πŸ˜† perjalanan kali ini ke Bangkok, karena memang mempersiapkan diri buat belanja-belanja hemat (belanja kok hemat), maka saya dan teman-teman pun sepakat menggunakan koper. Yap, perjalanan kali ini agak in-style dikit lah, jadi jangan nyinyir kalo yang biasa backpacking yaa.. πŸ˜€

Untuk itu, dengan koper setengah kosong ketika berangkat, kami membeli 20 kg bagasi. Dan untuk pulangnya kami membeli 50 kg bagasi. Untuk bertiga πŸ˜€ bukan buat masing-masing ya.. soalnya belanjaannya buat dipake sendiri bukan buat jualan.. hahahaha.. *wink*

Harap diperhatikan juga, walaupun hampir semua maskapai penerbangan menyediakan tempat menyimpan tas di atas tempat duduk penumpang, biasanya sudah ditentukan barangnya tidak boleh lebih dari 7-8 kilo. Sebaiknya sih di turutin ya.. karena kalo keberatan: Pertama, susah naikinnya. Kedua: susah nuruninnya. Ketiga: ada kemungkinan pas naikin dan nurunin itu barang berat, Anda nabok kepala orang yang di bawahnya.

Hotel

Kami memesan hotel lewat Agoda.com πŸ™‚

Berhubung karena melihat harga di Agoda, untuk menginap di hotel ternyata murah (alias masih masuk budget kami yaa), maka kami putuskan menginap di hotel saja, bukan di hostel πŸ˜€ Karena menginap di hotel inilah, ya akhirnya bisa koperan..

Tadinya cuma pesan 3 malam, karena 2 malam sebelumnya, direncanakan akan kami habiskan di kereta pulang-pergi Bangkok – Chiang Mai – Ayutthaya – Bangkok. Tapi berhubung waktu yang kurang memungkinkan, maka trip ke Chiang Mai kami batalkan, dan trip ke Ayutthaya cukup memakan 1 hari pulang-pergi, maka kami memesan lagi penginapan di hotel lain untuk 2 malam.

Hotel pertama adalah Unico Express di Sukhumvit. Well, jujur saja, saya ga terlalu suka hotel ini, karena: Pertama, aslinya tidak seperti gambarnya di Agoda yang cuma maenin pencahayaan aja. Jadi keliatannya bagus, padahal tidak sama sekali πŸ˜† Hotel yang seperti hostel. Kedua, kamar hotelnya, duh, ternyata tidak dibersihkan dengan sepenuh hati. Tempat tidurnya ketika kami buka selimut, ternyata masih penuh serpihan-serpihan debu dan kotoran. Ketiga, gak ada jendela yang bisa dibuka. Keempat, hotel ini berada di daerah orang-orang Arab. saya takut sama mereka, jadi ya gitu deh. Hahaha..

Hotel Kedua adalah SPB Paradise, di daerah Sutthisan. Tempatnya agak nyempil gitu, tapi saya suka hotel ini, karena: Pertama, BERSIH! Kedua, walaupun agak nyempil, tapi mereka menyediakan shuttle (golf) car dari hotel ke stasiun MRT terdekat. Ketiga, ada balkonnya dan tempat buat jemur baju! πŸ˜† Keempat, saya lebih merasa tentram tinggal di hotel ini.. πŸ˜†

Untuk biaya kedua hotel itu sendiri, kami menghabiskan sekitar 700 ribu per orang. Untuk 5 malam, lumayan hemat lah yaa πŸ™‚

Bahasa

Kalau kamu-kamu sekalian mau ke Thailand, sebaiknya bisa bahasa Thailand dan bisa baca huruf Thailand!

Etapi kalau ga bisa juga gak papa sih, bahkan kalau ga jago bahasa inggris pun kayaknya gak papa. Karena selama disana, kalau belanja, pakai kalkulator, kalau nanya-nanya, pakai gesture. Hahahaha πŸ˜†

Karena bukan negara berbahasa inggris seperti Singapore atau Malaysia, agak susah berkomunikasi di Thailand 😦 Kalau di tempat-tempat umum (seperti bandara atau stasiun kereta atau MRT atau BTS), para pekerjanya bisa lah berbicara bahasa inggris. Jadi siap-siap mental aja kalau disana tersesat atau gimana. πŸ˜† yang penting siapkan PETA πŸ˜‰ sebaiknya beli peta dari indonesia aja, atau donlot sebanyak2nya dari internet yang sudah ada bahasa latinnya ya πŸ˜‰ kalau udah biasa piyambakan sih pasti bisa survive, kalo yang ga biasa, mending ikut tur aja deh ya.. *pukpuk*

Visa

Kalau cuma buat jalan-jalan 30 hari, orang Indonesia ga perlu bikin Visa untuk ke Bangkok. Cukup datang aja, trus di cap. Kalau lebih dari 30 hari, baru deh bikin visa, tapi ya maap saya gatau prosedurnya gimana, karena kemarin cuma 6 hari aja jalan-jalan disananya ya.. Lebih jelasnya, silakan ke website kedutaan thailand aja ya πŸ˜‰

Departure Day

Pastikan Anda tiba di Bandara tepat waktu! πŸ˜‰

Kami berangkat ke Bangkok dengan penerbangan pukul 7.45 pagi dan kami berangkat dari kos pukul 4.45 pagi. Yap! 3 jam sebelumnya. Walau di pagi hari bisa dikira-kira jalanan jakarta lancar jaya, but we won’t take risk. Pastikan Anda tau, penerbangan Anda di terminal mana. Di Bandara Soekarno-Hatta, untuk Air Asia ditempatkan di Terminal 3, baik domestik maupun internasional. Untuk Check-In-nya sendiri, menggunakan Air Asia memang cukup nyaman, karena bisa web check-in dari beberapa hari sebelumnya, dan print Boarding Pass menggunakan mesin-mesin print otomatis yang tersedia di Bandara. Namun jika membawa Bagasi, tetap harus mengantri untuk drop baggage.

Yang ga asik ya antrian drop baggage ini. Karena kebiasaan orang Indonesia suka telat, akhirnya walaupun udah ngantri, tetep harus ngeduluin orang-orang yang baru mau check-in untuk penerbangan yang notabene 15 menit lagi akan boarding atau bahkan sudah boarding. Jadi pesawatnya nunggu penumpang, alias penumpang yang on time nungguin penumpang yang telat.. nyebelin kan!Β *tapok jidat*Β 

Bahkan ketika kami bertiga sudah dapat giliran, masih aja diserobot ibuk-ibuk dengan penerbangan pukul 5.40 sementara waktu sudah menunjukkan pukul 5.30. Meskipun ditolak mentah-mentah oleh petugas Air Asia, si ibuk ini tetep ngotot. Pesawat pukul 5.40 itu, artinya jam segitu harusnya sudah take-off, bukan masuk pesawat (atau parahnya baru mau check-in). Kalau selama ini di Indonesia, 5.40 (atau lebih) itu baru masuk pesawat, itu artinya delay, sodara-sodara! Coba aja kalo dari pagi, semua pesawat baik hati masih nungguin penumpang-penumpang yang suka telat ini, ya wajar lah kalo pesawat sore dan malam itu sering banget delay πŸ˜›

Makanya, sebisa mungkin sampailah lebih awal di Bandara, setidaknya 2 jam sebelum keberangkatan. Karena naik pesawat, bukan kayak naik angkot πŸ˜†

All checked! Siap keliling Bangkok! Nantikan postingan bagian kedua yaaa πŸ˜€